ARTIKEL 2: NAMA — MAKNA DAN URGENSI DALAM TRADISI YAHUDI
ARTIKEL 2: NAMA — MAKNA DAN URGENSI DALAM TRADISI YAHUDI
Mengapa "Nama" adalah Kunci untuk Memahami Allah dalam Alkitab?
---
Pendahuluan: Dari "Nama" ke "Substansi" — Sebuah Pergeseran yang Menentukan
Dalam Artikel 1, kita telah menetapkan bahwa titik berangkat teologi yang benar bukanlah pertanyaan filsafat Yunani ("Apa substansi Allah?"), melainkan perintah Yesus sendiri dalam Amanat Agung: "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19).
Kata kunci dalam perintah ini adalah "nama." Yesus tidak berkata: "Baptislah mereka dalam substansi Bapa, Anak, dan Roh Kudus." Ia tidak berkata: "Baptislah mereka dalam esensi." Ia tidak berkata: "Baptislah mereka dalam kodrat." Ia berkata: "Baptislah mereka dalam nama."
Mengapa Yesus memilih kata ini? Apa makna "nama" dalam tradisi Yahudi yang membentuk cara berpikir para rasul? Dan mengapa pergeseran dari "nama" ke "substansi" dalam sejarah gereja merupakan pergeseran yang sangat menentukan—bahkan bermasalah?
Artikel ini akan menyelami makna shem (nama) dalam Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi, menunjukkan bahwa "nama" bukanlah sekadar label, melainkan realitas personal Allah yang dapat dikenal, dipanggil, dan dimasuki.
---
1. "Nama" (Shem) dalam Perjanjian Lama: Bukan Sekadar Label
1.1. Nama adalah Identitas Personal
Dalam budaya modern, nama sering kali hanya berfungsi sebagai label. Kita memberi nama kepada anak kita "David" bukan karena kita berharap ia menjadi raja, tetapi karena kita menyukai bunyinya. Nama dan identitas bisa terpisah.
Tidak demikian dalam budaya Ibrani. Dalam Alkitab, nama adalah identitas. Nama menyatakan siapa seseorang sesungguhnya. Inilah sebabnya perubahan nama dalam Alkitab selalu menandai perubahan identitas atau misi:
Tokoh Nama Lama Nama Baru Makna Perubahan
Abram "Ayah yang mulia" Abraham — "Ayah banyak bangsa" Identitas baru sebagai bapa orang beriman (Kejadian 17:5)
Sarai "Putriku" (?) Sara — "Putri" Dari "putri seseorang" menjadi "putri perjanjian" (Kejadian 17:15)
Yakub "Penipu" Israel — "Bergumul dengan Allah" Dari penipu menjadi pewaris perjanjian (Kejadian 32:28)
Simon "Pendengar" Petrus — "Batu Karang" Dari nelayan menjadi fondasi gereja (Matius 16:18)
Jika nama hanyalah label, mengapa Allah repot-repot mengubahnya? Karena nama adalah deklarasi identitas. Mengubah nama berarti mengubah siapa seseorang di hadapan Allah dan dunia.
1.2. Nama adalah Karakter dan Reputasi
Nama dalam Alkitab juga menyatakan karakter dan reputasi. Inilah sebabnya "mencemarkan nama" adalah dosa serius—karena itu berarti merusak reputasi dan karakter seseorang di mata orang lain.
Ketika Alkitab berbicara tentang "nama Allah," ia berbicara tentang karakter Allah yang dinyatakan:
"Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya." (Mazmur 29:2)
Ini bukan sekadar "berilah hormat kepada label-Nya." Ini berarti: "Akui dan nyatakan karakter-Nya yang mulia."
"Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia selamat." (Amsal 18:10)
Nama TUHAN bukanlah sekadar kata "YHWH." Nama TUHAN adalah karakter YHWH yang dapat diandalkan—keadilan-Nya, kasih setia-Nya, kuasa-Nya untuk menyelamatkan. Ketika orang benar "berlari ke nama TUHAN," mereka tidak berlari ke sebuah kata; mereka berlari ke Pribadi yang dinyatakan oleh nama itu.
1.3. Nama adalah Kehadiran
Yang paling mendalam: dalam tradisi Ibrani, nama adalah kehadiran. Nama Allah adalah tempat di mana Allah berdiam.
"Kamu harus mencari tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, dari antara semua sukumu, untuk menegakkan nama-Nya di sana, dan ke sanalah kamu harus datang." (Ulangan 12:5)
"Menegakkan nama-Nya" bukan berarti mendirikan plakat bertuliskan "YHWH." Ini berarti: Allah sendiri hadir di sana. Bait Suci adalah tempat di mana "nama YHWH berdiam" (1 Raja-raja 8:29). Ini bukan sekadar label; ini adalah kehadiran Allah yang nyata.
Inilah sebabnya dalam Yudaisme, Shem (Nama) menjadi pengganti untuk menyebut YHWH sendiri. Ketika seorang Yahudi saleh membaca teks yang mengandung Tetragrammaton, ia tidak mengucapkan "Yahweh," melainkan "Ha-Shem"—Sang Nama. Nama itu sendiri menjadi pengakuan akan kehadiran Allah yang kudus dan tidak terucap.
---
2. YHWH: Nama yang Diwahyukan
2.1. Keluaran 3:14-15 — Nama sebagai Deklarasi Kehendak Bebas
Ketika Musa bertanya kepada Allah tentang nama-Nya, jawaban yang ia terima adalah:
"Ehyeh asher ehyeh... Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Ehyeh telah mengutus aku kepadamu." (Keluaran 3:14)
Kemudian Allah melanjutkan:
"Inilah nama-Ku untuk selama-lamanya, dan inilah sebutan-Ku turun-temurun: YHWH." (Keluaran 3:15)
Ada dua hal yang perlu diperhatikan di sini:
Pertama: Ehyeh asher ehyeh bukanlah definisi filosofis tentang "keberadaan." Ini adalah deklarasi kehendak bebas. "Aku akan menjadi siapa Aku akan menjadi" berarti: "Aku adalah Allah yang bebas. Aku tidak terikat oleh definisi manusia. Aku akan menyatakan diri-Ku sesuai dengan kehendak-Ku."
Kedua: Nama YHWH terkait erat dengan Ehyeh (Aku akan menjadi). YHWH adalah Dia yang akan menjadi—Allah yang menyertai umat-Nya dalam sejarah, yang bertindak, yang menebus, yang memelihara.
2.2. Makna YHWH: Allah yang Hadir dan Bertindak
YHWH bukanlah nama yang mengungkapkan "substansi" Allah. YHWH adalah nama yang mengungkapkan komitmen Allah untuk hadir dan bertindak bagi umat-Nya.
Setiap kali Allah menyatakan diri sebagai YHWH, Ia melakukannya dalam konteks tindakan penyelamatan:
Peristiwa Pernyataan Makna
Keluaran dari Mesir "Aku adalah YHWH, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir" (Keluaran 20:2) YHWH adalah Penebus
Perjanjian Sinai "Aku adalah YHWH, Allahmu" (Ulangan 5:6) YHWH adalah Allah Perjanjian
Pembuangan Babel "Mereka akan mengetahui bahwa Akulah YHWH" (Yehezkiel 36:23) YHWH adalah Pemulih
YHWH tidak pernah didefinisikan dalam kategori abstrak. YHWH selalu didefinisikan dalam tindakan-tindakan-Nya yang konkret dalam sejarah.
---
3. Urgensi "Nama" dalam Tradisi Yahudi
3.1. Shema: Pengakuan akan Satu Nama
Doa yang paling fundamental dalam Yudaisme adalah Shema:
"Dengarlah, hai Israel: YHWH Allah kita, YHWH itu esa! Kasihilah YHWH, Allahmu, dengan segenap hatimu..." (Ulangan 6:4-5)
Shema bukanlah pernyataan tentang "satu substansi." Shema adalah pengakuan akan satu Nama—satu YHWH yang adalah Allah Israel. Dan respons terhadap pengakuan ini bukanlah analisis filosofis, melainkan kasih: "Kasihilah YHWH, Allahmu."
Bagi seorang Yahudi saleh, mengucapkan Shema setiap pagi dan petang adalah tindakan menyerahkan diri kepada Nama itu—mengakui YHWH sebagai satu-satunya Allah dan berkomitmen untuk mengasihi-Nya.
3.2. Nama sebagai Objek Penyembahan dan Tempat Perlindungan
Nama YHWH bukan hanya untuk dikenal; Nama YHWH adalah objek penyembahan dan tempat perlindungan:
"Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan." (Mazmur 29:2)
"Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia selamat." (Amsal 18:10)
"Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya." (Roma 11:36)
Menyembah "nama" berarti menyembah Pribadi yang dinyatakan oleh nama itu. Berlari ke "nama" berarti berlari ke Pribadi yang adalah menara keselamatan.
3.3. Baptisan sebagai Masuk ke dalam Nama
Dengan latar belakang ini, kita sekarang dapat memahami mengapa Yesus memilih kata "nama" dalam Amanat Agung.
Ketika Yesus berkata: "Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus," Ia tidak sedang memberi formula liturgis. Ia sedang memberi akses kepada realitas Allah sendiri.
"Baptislah mereka dalam (eis) nama" berarti: "Masukkanlah mereka ke dalam Nama itu—ke dalam identitas, karakter, kehadiran, dan otoritas YHWH."
Baptisan bukanlah sekadar ritual. Baptisan adalah dimasukkan ke dalam Nama—dipindahkan dari kerajaan kegelapan ke dalam kerajaan Anak yang dikasihi-Nya (Kolose 1:13). Baptisan adalah mengenakan Kristus (Galatia 3:27)—menerima identitas baru di dalam Nama yang esa.
---
4. Dari "Nama" ke "Substansi": Sebuah Pergeseran yang Bermasalah
4.1. Kapan dan Mengapa Pergeseran Ini Terjadi?
Ketika Kekristenan menyebar ke dunia Yunani-Romawi pada abad ke-2 dan ke-3, para teolog Kristen menghadapi tantangan baru: bagaimana menjelaskan iman Kristen kepada orang-orang yang berpikir dalam kategori filsafat Yunani?
Orang Yunani tidak bertanya: "Siapa Allah? Apa yang telah Ia lakukan?" Mereka bertanya: "Apa substansi Allah? Bagaimana mungkin Allah yang esa memiliki tiga manifestasi?"
Para Bapa Gereja, yang banyak di antara mereka dilatih dalam filsafat Yunani, merespons dengan menggunakan kategori-kategori Yunani:
Kategori Ibrani Digantikan dengan Kategori Yunani
Shem (Nama) — identitas, karakter, kehadiran Ousia (Substansi) — esensi metafisik
Ehyeh (Aku akan menjadi) — gerakan, kehendak bebas Ho On (Dia yang Ada) — keberadaan statis
Echad (kesatuan majemuk) Hen (satu numerik)
Relasi dan tindakan Metafisika dan ontologi
4.2. Apa yang Hilang dalam Pergeseran Ini?
Ketika teologi bergeser dari "nama" ke "substansi," beberapa hal yang sangat penting hilang:
Pertama: Relasi. Nama adalah untuk dipanggil. Substansi adalah untuk dianalisis. Allah yang dikenal melalui nama adalah Allah yang dapat disapa, dikasihi, dan disembah. Allah yang dikenal melalui substansi adalah objek studi metafisik.
Kedua: Tindakan. Nama YHWH selalu terkait dengan tindakan-Nya dalam sejarah—mencipta, menebus, memelihara. Substansi adalah konsep statis yang tidak menceritakan apa pun tentang apa yang telah Allah lakukan.
Ketiga: Kehadiran. Nama adalah tempat kediaman Allah. Substansi adalah "bahan dasar" Allah. Yang pertama adalah tentang di mana Allah hadir; yang kedua adalah tentang terbuat dari apa Allah—sebuah pertanyaan yang tidak pernah diajukan oleh Alkitab.
4.3. Mengapa LTTI Kembali ke "Nama"?
LTTI 2.16 kembali ke "nama" sebagai kategori utama untuk memahami Allah karena:
1. Yesus sendiri menggunakannya. Amanat Agung adalah perintah Yesus, dan Ia memilih kata "nama."
2. Alkitab menggunakannya. Dari Kejadian hingga Wahyu, "nama" adalah kategori dominan untuk memahami Allah.
3. Nama adalah relasional. Allah ingin dikenal, bukan dianalisis.
4. Nama mencakup semua dimensi. Identitas, karakter, kehadiran, otoritas—semuanya ada dalam konsep shem.
---
5. Implikasi: Memahami Allah Melalui Nama-Nya
5.1. Allah Ingin Dikenal, Bukan Dianalisis
Jika Allah ingin dianalisis, Ia akan memberikan definisi filosofis tentang ousia-Nya. Tetapi yang Ia berikan adalah nama-Nya: YHWH. Nama adalah undangan untuk relasi, bukan objek untuk dipelajari.
5.2. Keselamatan adalah Masuk ke dalam Nama
Baptisan "dalam nama" berarti masuk ke dalam realitas Allah sendiri. Ini bukan sekadar ritual; ini adalah pemindahan eksistensial—dari berada di luar Nama menjadi berada di dalam Nama.
5.3. Menyembah dalam Nama
Berdoa "dalam nama Yesus" bukanlah sekadar menambahkan formula di akhir doa. Ini adalah mengakui bahwa Yesus adalah Nama YHWH yang dinyatakan—dan bahwa kita datang kepada Bapa melalui Dia yang adalah pernyataan penuh dari Nama itu (Yohanes 17:6, 26).
---
Penutup: Kembali ke Nama
LTTI 2.16 mengundang gereja untuk kembali ke "nama." Bukan kembali ke Yudaisme. Bukan menolak Yesus. Tetapi kembali ke cara berpikir Alkitab sendiri tentang Allah.
Allah tidak memberikan kita sebuah rumusan filosofis. Ia memberikan kita nama-Nya. Dan nama itu adalah YHWH—yang dinyatakan sebagai Bapa (Pencipta dan Pemelihara), sebagai Anak (Raja Mesias yang menebus), dan sebagai Roh Kudus (Kuasa yang memulihkan).
"Inilah nama-Ku untuk selama-lamanya, dan inilah sebutan-Ku turun-temurun." (Keluaran 3:15)
Nama itu tidak berubah. Nama itu kekal. Dan dalam nama itu—YHWH yang esa—kita dibaptis, kita diselamatkan, dan kita hidup.
"Dan setiap orang yang berseru kepada nama YHWH akan diselamatkan." (Yoel 2:32; Roma 10:13)
---
Bersambung ke Artikel 3: Pembaptis — Makna dalam PL dan PB serta Benang Merahnya
---
Komentar
Posting Komentar